Terjemah Kitab Safinatun Najah

Safinatun Najah
adalah sebuah kitab ringkas mengenai dasar-dasar ilmu fikih menurut mazhab
Syafi'i. Kitab Safinatun Najah memiliki nama lengkap Safinatun Najah Fiimaa
Yajibu ala Abdi li Maulah (سفينة النجاه في ما يجب علي العبد لمولاه) yang artinya Perahu Keselamatan dalam Mempelajari Kewajiban
Seorang Hamba Kepada Allah swt.
Kitab Safinatun
Najah berisi kesimpulan-kesimpulan hukum fikih tanpa menguraikan dalil atau
dasar hukum yang digunakan. Ditulis oleh Syekh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin
Sumair Al Hadhrami (seorang ulama asal Yaman), kitab Safinatun Najah
menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami.
Meskipun terkesan
ringkas, namun cakupan kitab Safinatun Najah ini terbilang luas. Ada pembahasan
akidah mengenai rukun islam, rukun iman, makna kalimat tauhid, dll. Ada juga
hukum fikih tentang tanda-tanda baligh, cara bersuci, macam-macam air, tata
cara berwudhu, dan masih banyak pembahasan fikih lainnya.
DAFTAR
ISI
[MUQODDIMAH] [Rukun Islam] [Rukun Iman] [Makna Kalimat Tauhid] [Tanda
Baligh] [Syarat Istinja] [Rukun Wudhu] [Arti Niat dan Tertib] [Hukum Air] [Yang
Mewajibkan Mandi] [Rukun Mandi] [Syarat Wudhu] [Pembatal Wudhu] [Yang
Diharamkan Bagi yang Berhadats] [Yang Diharamkan Bagi Orang Junub] [Yang
Diharamkan Bagi Wanita Haid] [Sebab Tayammum] [Syarat Tayammum] [Rukun
Tayammum] [Pembatal Tayammum] [Najis yang Bisa Suci] [Pembagian Najis] [Cara
Menghilangkan Najis] [Haid dan Nifas]
[KITAB SHALAT] [Udzur Shalat] [Syarat Shalat] [Pembagian Hadats]
[Pembagian Aurot] [Rukun Shalat] [Niat Shalat] [Syarat Takbiratul Ihrom]
[Syarat Al-Fatihah] [Tasydid Al-Fatihah] [Waktu Mengangkat Tangan] [Syarat
Sujud] [Anggota Sujud] [Tasydid Tasyahhud] [Tasydid Shalawat] [Salam Minimal]
[Pembagian Waktu Shalat] [Pembagian Mega] [Waktu Larangan Shalat] [Saktah
Shalat] [Rukun Thuma’ninah] [Sebab Sujud Sahwi] [Ab’ad Shalat] [Pembatal
Shalat] [Niat Imamah] [Syarat Menjadi Makmum] [Pembagian Makmum] [Syarat Jama
Takdim] [Syarat Jama Takhir] [Syarat Qoshor] [Syarat Shalat Jumat] [Rukun
Khutbatain] [Syarat Khutbatain]
[KITAB
JENAZAH] [Mengurus Jenazah] [Kafan] [Rukun Shalat Jenazah]
[Liang Kubur] [Pembongkaran Mayat] [Istianah Berwudhu]
[KITAB
ZAKAT] [Harta yang Dizakati]
[KITAB PUASA]
[Kapan Wajib Puasa?] [Syarat Sah Puasa] [Syarat Wajib Puasa] [Rukun Puasa]
[Qodho dan Kaffarot] [Pembatal Puasa] [Pembagian Ifthor] [Jenis Ifthor] [Bukan
Pembatal Puasa]
[Muqadimah]
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ
عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدَّيْنِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيَّيْنَ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَلاَ حَوْلَ
وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Segala puji milik
Allah Rabb semesta alam. Dengan-Nya kami meminta pertolongan dalam urusan dunia
dan agama. Semoga shalawat dan salam Allah atas tuan kita Muhammad penutup para
Nabi, keluarganya, dan Sahabatnya semua. Tidak ada daya dan upaya kecuali
dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.
[Rukun
Islam]
أَرْكَانُ الإِسْلامِ خَمْسَةٌ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ إِقَامُ الصَّلاَةِ إِيْتَاءُ الزَّكَاةِ صَوْمُ
رَمَضَانَ حَجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
Fasal: Rukun Islam
ada 5, yaitu syahadat laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, puasa Romadhon, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu
menempuh perjalananya.
[Rukun
Iman]
أَرْكَانُ الإِيْمَانِ سِتَّةٌ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ مَلاَئِكَتِهِ كُتُبِهِ رُسُلِهِ
بِالْيَوْمِ الآخِرِ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى
Fasal: Rukun imam
ada 6, yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, hari Akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk semuanya
dari Allah.
[Makna
Kalimat Tauhid]
وَمَعْنَى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ مَعْبُودَ بِحَقٍّ فِيْ الْوُجُوْدِ إِلاَّ
اللهُ
Fasal: Makna (لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ) adalah tidak ada yang berhak disembah (dalam wujud) selain
Allah.
[Tanda
Baligh]
عَلاَمَاتُ الْبُلُوْغِ ثَلاَثٌ تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فِيْ
الذَّكَّرِ وَالأُنْثَى وَالاحْتِلاَمُ فِيْ الذَّكَرِ وَالأُنْثَى لِتِسْعِ
سِنِيْنَ وَالْحَيْضُ فِيْ الأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ
Fasal: Tanda
baligh ada tiga, yaitu [1] umur 15 tahun sempurna bagi lelaki maupun perempuan.
[2] ihtilam (mimpi basah) bagi lelaki maupun perempuan yang (biasanya) berumur
9 tahun, dan [3] haidh bagi perempuan yang (biasanya) berumur 9 tahun.
[Syarat
Istinja]
شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ أنْ يَكُوْنَ بِثَلاَثةِ أَحْجَارٍ وَأنْ
يُنْقِيَ الْمَحَلَّ وَأنْ لاَ يَجِفَّ النَجَسُ وَأَنْ لاَ يَنْتَقِلَ وَلاَ
يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ وَأَنْ لاَ يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ وَأَنْ لاَ
يُصِيْبَهُ مَاءٌ وَأنْ تَكُوْنَ الأَحْجَارُ طَاهِرَةً
Fasal: Syarat sah
bersuci dengan batu (istinja) ada 8, yaitu: [1] jumlah batunya tiga, [2]
membersihkan tempat najis, [3] najisnya belum kering, [4] najis belum berpindah
tempat, [5] tidak tercampur dengan najis lain, [6] tidak melampaui shofhah
(daerah yang tertutup dari kedua pantat saat berdiri) dan hasyafah
(daerah/kuncup yang nampak dari penis lelaki setelah dikhitan), [7] tidak
terkena air, dan [8] batu tersebut haruslah suci.
[Rukun
Wudhu]
فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ الأَوَّلُ: النِّيَّةُ الثَّانِيْ:غَسْلُ
الْوَجْهِ الثَّالِثُ: غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ الرَّابعُ:
مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ الْخَامِسُ: غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ
الْكَعْبَيْنِ السَّادِسُ: التَّرْتِيْبُ
Fasal: Fardhu
(rukun) wudhu ada 6, yaitu: [1] niat, [2] membasuh wajah, [3] membasuh dua
tangan hingga siku, [4] mengusap sebagian kepala, [5] membasuh dua kaki hingga
mata-kaki, dan [6] tertib (berurutan).
[Arti
Niat dan Tertib]
النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: الْقَلْبُ.
وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ
الْوَجْهِ وَالتَّرْتِيْبُ: أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ
Fasal: niat adalah
menyegaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di
dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh
bagian pertama dari wajah. Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak
didahului bagian yang lain.
[Hukum
Air]
المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْر فَالْقَلِيْلُ: مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ وَالْكَثِيْرُ:
قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ وَالقَلِيْلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ،
وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ وَالْمَاءُ
الْكَثِيْرُ: لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ
رِيْحُهُ
Fasal: Air sedikit
dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua kulah dan air banyak jika
lebih dari dua kulah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke
dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis
dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya,
atau aromanya.
[Yang
Mewajibkan Mandi]
مُوْجِبَاتُ الْغُسْلِ سِتَّةٌ إِيْلاَجُ الْحَشَفَةِ فِيْ الْفَرْجِ وَخُرُوُجُ
الْمَنيِّ وَالْحَيْضُ وَالنَّفَاسُ وَالْوِلاَدَةُ وَالْمَوْتُ
Fasal: Yang
mewajibkan mandi ada 6 hal, yaitu [1] masuknya hasyafah (kuncup dzakar) ke
farji (vagina), [2] keluarnya mani, [3] haidh, [4] nifas, [5] melahirkan, dan
[6] meninggal.
[Rukun
Mandi]
فُرُوْضُ الْغُسْلِ اثْنَانِ النِّيَّةُ وَتَعْمِيْمُ الْبَدَنِ بِالمَاءِ
Fasal: Fardhu
(rukun) mandi besar ada 2, yaitu niat dan mengguyur rata badan dengan air.
[Syarat
Wudhu]
شُرُوْطُ الْوُضُوْءِ عَشَرَةٌ الإِسْلاَمُ وَالتَّمْيِيْزُ وَالنَّقَاءُ عَنِ
الْحَيْضِ، والنِّفَاسِ وَعَمَّا يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ وَأَنْ
لاَ يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ وَالْعِلَمُ بِفَرْضِيَّتِهِ
وَأَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فَرُوْضِهِ سُنَّةً وَالْمَاءُ الطَّهُوْرُ وَدُخُوْلُ
الْوَقْتِ وَالْمُوَالاَةُ لِدَائِمِ الْحَدَثِ
Fasal: syarat
wudhu ada 10, yaitu: [1] Islam, [2] tamyiz (bisa membedakan yang baik dan
benar), [3] bersih dari haidh dan nifas, [4] bersih dari yang menghalangi air
meresap ke kulit, [5] tidak ada anggota wudhu
yang merubah air suci, [6] mengetahui wajib wudhu, [7] tidak meyakini
sunnah sebagai wajib wudhu, [8] airnya suci, [9] masuk waktu, dan [10] muwalah
bagi yang sering berhadats.
[Pembatal
Wudhu]
نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ الأَولُ: الْخَارجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ،
مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ، رِيْحٌ أَوْ غَيْرُهُ، إِلاَّ الْمَنِيَّ الثَّانِيْ:
زَوَالُ الْعَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ،إِلاَّ قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ
مِنَ الأَرْضِ الثَّالِثُ: الْتِقَاءِ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيْرَيْنِ
أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ الرَّابعَ: مَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ، أَوْ
حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ، أِوْ بُطُوْنِ الأَصَابعِ
Fasal: Pembatal wudhu ada 4, yaitu [1] apapun yang
keluar dari salah satu dari dua jalan yaitu qubul (jalan depan/kemaluan) atau
dubur (jalan belakang/ anus), baik kentut atau lainnya kecuali mani, [2]
hilangnya akal dengan tidur atau lainnya kecuali tidurnya orang yang duduk
sambil mengokohkan duduknya di tanah (lantai), dan [3] bersentuhannya dua kulit
lelaki dengan perempuan dewasa tanpa pembatas, dan [4] menyentuh qubul anak
Adam atau lingkarang duburnya dengan telapak tangan atau jari-jarinya.
[Yang
Diharamkan Bagi yang Berhadats]
مَنِ انْتَقَضَ وُضُوْءَهُ حَرُمَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَشُيَاءَ الصَّلاَةُ وَالطَّوَافُ
وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ
Siapa yang batal
wudhunya maka dia diharamkan 4 hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3] memegang
mushaf, dan [4] membawanya.
[Yang
Diharamkan Bagi Orang Junub]
وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَة وَالطَّوَافُ وَمَسُّ
الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَاللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Orang junub
diharamkan 6 hal, yaitu: [1] shalat, [2] thawaf, [3-4] memegang mushaf dan
membawanya, [5] berdiam diri di masjid, dan [6] membaca Al-Qur’an.
[Yang
Diharamkan Bagi Wanita Haid]
وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَةُ وَالطَّوَافُ وَمَسُّ
الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَاللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَالصَّوْمُ
وَالطَّلاَقُ وَالمُرُوْرُ فِيْ المَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيْثَهُ وَالاسْتِمْتَاعُ
بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ
Wanita haidh
diharamkan 10 hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3-4] menyentuh mushaf dan
membawanya, [5] berdiam diri di masjid, [6] membaca Al-Qur’an, [7] puasa, [8]
talaq, [9] melewati masjid jika takut mengotorinya, dan [10] istimta’
(bercumbu) di sekitar daerah antara pusar dan lutut.
[Sebab
Tayammum]
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ثَلاَثَةٌ فَقْدُ الْمَاءِ وَالْمَرَضُ وَالاحْتِيَاجُ
إِلَيْهِ لِعَطَشِ حَيَوَانٍ مُحْتَرِمٍ
Fasal: Sebab
tayammum ada 3, yaitu [1] tidak ada air, [2] sakit, dan [3] airnya dibutuhkan
untuk memberi minum binatang kehausan yang muhtarom (yang dimuliakan syara’).
غَيْرُ الْمُحْتَرَم سِتَّةٌ تَارِكُ الصَّلاَةِ وَالزَّانِيْ الْمُحْصَنُ وَالْمُرْتَدُّ
وَالكَافِرُ الْحَرْبِيُّ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْخِنْزِيْرُ
Orang yang tidak
dihormati ada 6, yaitu [1] peninggal shalat, [2] pezina muhshon, [3] murtad,
[4] kafir harbi, [5] anjing galak, dan [6] babi.
[Syarat
Tayammum]
شُرُوْطُ التَّيَمُّمِ عَشَرَةٌ أَنْ يَكُوْنَ بِتُرَابٍ وَأَنْ يَكُوْنَ
التُّرَابُ طَاهِرَاً وَأَنْ يَكُوْنَ مُسْتَعْمَلاٍ وَأنْ لاَ يُخَالِطَهُ
دَقِيْقٌ وَنَحْوُهُ وَأَنْ يَقْصِدَهُ وَأنْ يَمْسَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ
بِضَرْبَتَيْنِ وَأَنْ يُزِيْلَ النَّجَاسَةَ أَوَّلاً وَأَنْ يَجْتَهِدَ فِيْ
الْقِبْلَةِ قَبْلَهُ وَأنْ يَكُوْنَ التَّيَمُّمُ بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ وَأَنْ
يَتَيَمَّمَ لِكُلِّ فَرْضٍ
Fasal: Syarat
tayammum ada 10, yaitu [1] dengan debu, [2] debunya suci, [3] tidak debu
musta’mal (sudah digunakan), [4] tidak bercampur gandum atau semacamnya, [5]
sengaja tayammum, [6] membasuh wajah dan dua tangannya dengan dua kali tepukan
tanah, [7] sebelumnya sudah membersihkan najis badan, [8] ijtihad menentukan
qiblat, [9] tayammum setelah masuk waktu, dan [10] tayammum sekali untuk tiap
shalat fardhu.
[Rukun
Tayammum]
فُرُوْضُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةٌ الأَوَّلُ: نَقْلُ التُّرَابِ الثَّانِيْ:
النِّيَّةُ الثَّالِثُ: مَسْحُ الْوَجْهِ الرَّابعُ: مَسْحُ الْيَدَيْنِ إَلَى
الْمِرْفَقَيْنِ الْخَامِسُ: التَّرْتِيْبُ بَيْنَ الْمَسْحَتَيْنِ
Fasal: Fardhu
(rukun) tayammum ada 5, yaitu [1] memindah debu, [2] niat, [3] mengusap wajah,
[4] mengusap tangan hingga siku-siku, dan [5] tertib dalam mengusap.
[Pembatal
Tayammum]
مُبْطِلاَتُ التَّيَمُّمِ ثَلاَثَةٌ مَا أَبْطَلَ الْوَضُوْءَ وَالرِّدَّةَ وَتَوَهُّمُ
الْمَاءِ إِنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِهِ
Fasal:
Pembatal-pembatal tayammum ada 3, yaitu [1] apa saja yang membatalkan wudhu,
[2] murtad, dan [3] ragu adanya air jika sebab tayamumnya karena ketiadaan air.
[Najis
yang Bisa Suci]
الَّذِيْ يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلاَثَةٌ الْخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ
بِنَفْسِهَا وَجِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ وَمَا صَارَ حَيَواناً
Fasal: Yang bisa
menjadi suci dari najis ada 3, yaitu [1] khomr (arak) yang berubah dengan
sendirinya (menjadi cuka), [2] kulit bangkai jika disamak, dan [3] binatang
yang disembelih.
[Pembagian
Najis]
النَّجَاسَاتُ ثَلاَثٌ مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ، وَمُتَوَسِّطَةٌ الْمُغَلَّظَةُ:
نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَفَرْغُ أَحدِهِمَا وَالْمُخَفَّفَة: بَوْلُ
الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَمْ يَطْعِمْ غَيْرَ اللَّبَنِ وَلَمْ يَبْلُغِ الْحَوْلَيْنِ
وَالْمُتُوَسَّطَةُ: سَائِرُ النَّجَاسَاتِ
Fasal: Najis itu
ada 3, yaitu [1] mughollazhoh, [2] mukhoffafah, dan [3] mutawasithoh.
Mughollazhoh adalah najis anjing dan babi beserta anak-anaknya, mukhoffafah
adalah kencing bayi yang belum makan apapun selain ASI dan belum mencapai 2
tahun, dan mutawasithoh adalah najis selain keduanya.
[Cara
Menghilangkan Najis]
الْمُغَلَّظَةُ تَطْهُرُ بِسَبْعِ غَسَلاَتٍ بَعْد إِزَالَةِ عَيْنِهَا
إِحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍ وَالْمُخَفّفَةُ تَطْمُرُ بِرَشِّ الْمَاءِ عَلَيْهَا مَعَ
الْغَلَبَةِ وَإِزَالَةِ عَيْنِها وَالْمُتَوَسَّطَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى
قِسْمَيْنِ: عَيْنِيَّةٌ، وَحُكْمِيَّةٌ الْعَيْنِيَّةُ: الَّتِيْ لَهَا لَوْنٌ
وَرِيْحٌ وَطَعْمٌ، فَلاَ بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ لَونِهَا وَريِحِهَا وَطَعْمِهَا وَالْحُكْمِيَّةُ:
الَّتِيْ لاَ لَوْنَ وَلاَ ريْحَ وَلاَ طَعْمَ لَهَا، يَكْفِيْكَ جَرْيُ الْمَاءِ
عَلَيْهَا
Fasal:
Mughollazhoh disucikan dengan 7 basuhan setelah dihilangkan najisnya terlebih
dahulu di mana salah satunya dengan debu. Mukhoffafah disucikan dengan
memercikkan air di atasnya disertai menghilangkan najisnya. Mutawassithoh
dibagi dua, yaitu [1] ainiyah dan [2] hukmiyah. Najis aini adalah najis yang
memiliki warna, aroma, dan rasa sehingga cara mensucikannya harus menghilangkan
warna, aroma, dan rasanya. Najis hukmi adalah najis yang tidak berwarna,
beraroma, dan berasa sehingga cukup mengalirkan air di atasnya.
[Haid
dan Nifas]
أًقَلُّ الْحَيْضِ: يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَغَالِبُهُ: سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ وَأَكْثَرُهُ:
خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْماً بِلَيَالِيْهَا أَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ
الْحَيْضَتَيْنِ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمَاً وَغَالِبُهُ: أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ
يَوْمَاً، أَوْ ثَلاَثَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمَاً وَلاَ حَدَّ لأَكْثَرِهِ أَقَلُّ
النِّفَاسِ: مَجَّةٌ. وَغَالِبُهُ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمَاً. وَأَكُثَرُهُ:
سِتُّوْنَ يَوْمَاً
Fasal: Sedikitnya
haidh adalah sehari semalam, umumnya 6 atau 7 hari, dan terbanyak adalah 15
sehari semalam. Sedikitnya masa suci antara dua haidh adalah 15 hari, umumnya
24 atau 23 hari, tetapi terkadang seseorang lebih lama dari itu. Masa
nifas paling sedikit adalah setetes darah, umumnya 40 hari, dan maksimal 60
hari.
[Udzur
Shalat]
أَعْذَارُ الصَّلاةِ اثْنَانِ النَّوْمُ وَالنِّسْيَانُ
Fasal: Udzur
shalat ada dua, yaitu tidur dan lupa.
[Syarat
Shalat]
شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ وَالطَّهَارَةُ عَنِ
النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاسْتِقْبَالُ
الْقِبْلَةِ وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ وَالْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا وَأَنْ لاَ
يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً وَاجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ
Fasal: Syarat
shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats (besar dan kecil), [2] suci dari
najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap qiblat,
[5] masuk waktu, [6] mengetahui fardhu shalat, [7] tidak meyakini fardhu shalat
sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya.
[Pembagian
Hadats]
الأَحْدَاثُ اثْنَانِ: أَصْغَرُ، وَأَكْبَرُ فَالأَصْغَرُ: مَا أوْجَبَ
الْوُضُوْءَ وَالأَكبَرُ: مَا أَوْجَبَ الْغُسْلَ
Hadats itu ada
dua, yaitu ashghor (kecil seperti kencing) dan akbar (besar seperti junub).
Ashghor adalah hadats yang mewajibkan wudhu dan akbar adalah yang mewajibkan
mandi.
[Pembagian
Aurot]
الْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ عَوْرَةُ الرَّجُلِ مُطْلَقَاً وَالأَمَةِ فِيْ
الصَّلاَةِ مَا بَيْنَ السُّرَةِ والرُّكْبَةِ وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِيْ
الصَّلاَةِ: جَمِيْعُ بَدَنِهَا مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَعَوْرَةُ
الْحُرَّةِ وَالأَمَةِ عِنْدَ الأَجَانِبِ: جَمِيْعُ الْبَدَنِ وَعِنْدَ
مَحَارِمِهمَا وَالنِّسَاءِ: مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ
Aurot itu ada 4,
yaitu [1] aurot lelaki mutlak (maksudnya, di dalam shalat dan luar shalat) dan
wanita di dalam shalat yakni antara pusar dan lutut, [2] aurot wanita merdeka
(bukan budak) di dalam shalat adalah seluruh badannya selain wajah dan telapak
tangan, [3] aurot wanita merdeka dan budak wanita terhadap lelaki asing adalah
seluruh badannya, dan [4] sementara aurot keduanya terhadap mahrom dan wanita
lain adalah antara pusar dan lutut.
[Rukun
Shalat]
أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ الأَوَّلُ: النِّيَّةُ الثَّانِيْ: تَكْبِيْرةُ
الإِحْرَامِ الثَّالِثُ: الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ الرَّابعُ:
قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ الْخَامِسُ: الرَّكُوْعُ السَّادِسُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ
فِيْهِ السَّابعُ: الاعْتِدَالُ الثَّامِنُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ التَّاسِعُ:
السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ الْعَاشِرُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ الْحَادِيْ عَشَرَ:
الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ الثَّانِيْ عَشَرَ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ الثَّالِثَ
عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ الرَّابِعَ عَشَرَ: الْقُعُوْدُ فِيْهِ الْخَامِسَ
عَشَرَ: الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ السَّادِسَ عَشَرَ: السَّلاَمُ السَّاِبَعَ
عَشَرَ: التَّرْتِيْبُ
Fasal: Rukun
shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihrom, [3] berdiri bagi yang
mampu dalam shalat wajib, [4] membaca Al-Fatihah, [5] ruku’, [6] thuma’ninah,
[7] i’tidal, [8] thuma’ninah saat i’tidal, [9] sujud dua kali, [10] thuma’ninah
saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thuma’ninah saat duduk, [13]
tasyahhud akhir, [14] duduk, [15] shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, [16] salam, dan [17] tertib.
[Niat
Shalat]
النِّيَّةُ ثَلاَثُ دَرَجَاتٍ إنْ كَانَتِ الصَّلاَةُ فَرْضَاً. وَجَبَ قَصْدُ
الْفِعْلِ، وَالتَّعْيِيْنُ، وَالْفَرْضِيَّةُ وإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤقَّتَةً
كَرَاتِبَةٍ أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ، وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ وَإِنْ
كَانَتْ نَافِلَةً، وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ الْفِعْلُ: أُصَلِّيْ.
وَالتَّعْيِيْنُ: ظُهْرَاً، أَوْ عَصْرَاً. وَالْفَرْضِيَّةُ: فَرْضَاً
Fasal: niat ada 3
tingkatan, yaitu [1] jika shalat fardhu maka wajib menyengaja berbuat dan
ta’yin (menentukan jenis shalat) serta fardhiyah (menyatakan kefardhuan), [2]
jika shalat sunnah muaqqot (yang ditentukan waktunya) seperti sunnah rawatib
atau yang memiliki sebab maka wajib menyengaja berbuat dan ta’yin, dan [3] jika
shalat sunnah mutlak (tidak terikat waktu) maka wajib menyengaja berbuat saja. Yang
dimaksud berbuat adalah ucapan ushalli (aku shalat), ta’yin adalah ucapan
Zhuhur atau Ashar, dan fardhiyyah adalah fardhu.
[Syarat
Takbiratul Ihrom]
شُرُوْطُ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرامِ سِتَّةَ عَشَرَ أَنْ تَقَعَ حَالَةَ
الْقِيَامِ فِيْ الْفَرْضِ وَأَنْ تَكُوْن بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ تَكُوْنَ
بِلَفْظِ الْجَلاَلَةِ وَلَفْظِ أَكْبَرُ وَالتَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَأَنْ
لاَ يَمُدَّ هَمْزَةَ الْجَلاَلَةِ وَعَدَمُ مَدِّ بَاءِ أَكْبَرُ وَأَنْ لاَ
يُشَدِّدَ الْبَاءَ وَأَنْ لاَ يَزِيْدَ وَاواً سَاكِنَةً، أَوْ مُتَحَرِّكَةً
بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ وَأَنْ لاَ يَزِيْدَ وَاواً قَبْلَ الْجَلاَلةِ وَأَنْ لاَ
يَقِفَ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً وَلاَ قَصِيْرَةً وَأَنْ
يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِها وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِيْ الْمُؤَقَّتِ وَإِيْقَاعُهَا
حَالَ الاسْتِقْبَال وَأَنْ لاْ يُخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا وَتَأْخِيْرُ
تَكْبِيْرَةِ الْمَأمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الإِمَام
Fasal: Syarat
takbiratul ihram ada 16, yaitu [1] dibaca saat berdiri dalam shalat fardhu, [2]
berbahasa Arab, [3&4] berlafazh jalalah (Allah) dan berlafazh Akbar, [5]
tertib (urut) antara dua lafazh tersebut, [6] hamzah jalalah tidak boleh
dipanjangkan, [7] BA akbar tidak dipanjangkan, [8] BA akbar tidak ditasydid, [9]
tidak ditambah dengan wawu mati atau berharokat di antara dua kata itu, [10]
tidak boleh ditambah wawu sebelum jalalah, [11] tidak berhenti di antara dua
lafazh takbir baik lama atau sebentar, [12] dirinya mendengar semua
huruf-hurufnya, [13] masuk waktu dalam
shalat muaqqat, [14] terjadinya sewaktu menghadap qiblat, [15] tidak merubah
satu pun dari huruf-huruf takbir, dan [16] mengakhirkan takbir makmum dari
takbir imam.
[Syarat
Al-Fatihah]
شُرُوْطُ الْفَاتِحَةِ عَشَرَةٌ التَّرْتِيْبُ وَالْمُوَالاَةُ وَمُرَاعَاةُ
حُرُوْفِهَا وَمُرَاعَاةُ تَشْدِيْدَتِهَا وَأَنْ لاَ يَسْكُتَ سَكْتَةً
طَوِيْلَةً، وَلاَ قَصِيْرَةً يَقْصِدُ بِهَا قَطْعَ الْقِرَاءَةِ وَقِرَاءَةُ
كُلِّ آيَاتِهَا، وَمِنْهَا الْبَسْمَلَةُ وَعَدَمُ اللَّحْنِ الْمُخِلِّ
بِالْمَعْنَى وَأَنْ تَكُوْنَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِيْ الْفَرْضِ وَأَنْ يُسْمِعَ
نَفْسَهُ الْقِرَاءَةَ وَأَنْ لاَ يَتَخَلَّلَهَا ذِكْرٌ أَجْنَبِيٌّ
Fasal: Syarat
Al-Fatihah ada 10, yaitu [1] tartib, [2] muwalah (urut dan tidak disela), [3]
menjaga hurufnya, [4] menjaga tasydidnya, [5] tidak berhenti lama atau sebentar
dalam memutus bacaan, [6] membaca semua ayatnya termasuk basmalah, [7] tidak
lahn (salah baca) yang bisa merubah makna, [8] membacanya dengan berdiri saat
shalat Fardhu, [9] dirinya mendengarkan bacaannya, dan [10] tidak
menyela-nyelanya dengan zikir lainnya.
[Tasydid
Al-Fatihah]
تَشْدِيْدَاتُ الْفَاتِحَةِ أَرْبَعَ عَشَرَةَ بِسْمِ اللهِ فَوْقَ الَّلامِ
الرَّحْمنِ فَوْقَ الرَّاءِ الرَّحِيْمِ فَوْقَ الرَّاءِ الْحَمْدُ للهِ فَوْقَ
لاَمِ الْجَلاَلَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَوْقَ الْبَاءِ الرَّحْمنِ فَوْقَ
الرَّاءِ الرَّحِيْمِ فَوْقَ الرَّاءِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ فَوْقَ الدِّالِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ فَوْقَ الْيَاءِ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ فَوْقَ الْيَاءِ
إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقٍيْمَ فَوْقَ الصَّادِ صِرَاطَ الَّذِيْنَ فَوْقَ
اللاَّمِ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ
الضَّالِّيْنَ فَوْقَ الضَّادِ وَاللاَّمِ
Fasal: Tasydid
Al-Fatihah ada 14, yaitu [1] bismillah tasydidnya di atas huruf LAM, [2]
Ar-Rohmaani di atas RO, [3] Ar-Rahim di atas RO, [4] Alhamdu lillahi di atas
LAM JALALAH, [5] Rabbil Alamin di atas BA, [6] Ar-Rohmaani di atas RO, [7]
Ar-Raohiimi di atas RO, [8] Ad-Diini di atas DAAL, [9] Iyyaka Na’budu di atas
YA, [10] Iyyaka Nastaiinu di atas YA, [11] Ihdinash Shiroothol Mustaqiim di atas
SHOOD, [12] Shiroothol Ladziina di atas LAM, [13&14] An’amta ‘Alaihim
Ghoiril Maghdzuubi Alaihim waladh Dhoolliin di atas DHOOD dan LAAM.
[Waktu
Mengangkat Tangan]
يُسَنُّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِيْ أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ
الإِحْرَامِ وَعِنْدَ الرُّكُوْعِ وَعِنْدَ الإِعْتِدَالِ وَعِنْدَ الْقِيَامِ
مِنْ التَشَهُّدِ الأَوَّلِ
Fasal: Disunnahkan
menggangkat dua tangan di 4 tempat, yaitu [1] saat Takbiratul ihrom, [2] saat
ruku, [3] saat itidal, dan [4] saat bangkit dari tasyahhud awwal.
[Syarat
Sujud]
شُرُوْطُ السُّجُوْدِ سَبْعَةٌ أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ وَأَنْ
تَكُوْنَ جَبْهَتَهَ مَكْشُوْفَةٍ وَالتَّحَامُلُ بِرَأْسِهِ وَعَدَمُ الْهُوِيِّ
لِغَيْرِهِ وَأَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ وَارْتِفَاعُ
أَسَافِلِهِ عَلَى أَعَالَيْهِ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ
Fasal: Syarat
sujud ada 7, yaitu [1] sujud di 7 anggota sujud, [2] dahinya terbuka, [3]
meletakkan kepalanya, [4] tidak meniatkan untuk selain sujud, [5] tidak sujud
di atas sesuatu yang bergerak-gerak, [6] kepala lebih rendah dari pantat, [7]
thuma’ninah.
[Anggota
Sujud]
(خَاتِمَةٌ) أَعْضَاءُ
السُّجُوُدِ سَبْعَةٌ الْجَبَهَةُ وَ بُطُوْنُ الْكَفَّيْنِ وَالرُّكْبَتَانِ وَ
بُطُوْنُ أَصَابعِ الرِّجْلَيْنِ
Khotimah: Anggota sujud
ada 7, yaitu [1] dahi, [2 dan 3] dua telapak tangan bagian dalam, [4 dan 5] dua
lutut, [6 dan 7] jari-jari dua kaki.
[Tasydid
Tasyahhud]
تَشْدِيْدَاتُ التَّشَهُّدِ إِحْدَى وَعِشْرُوْنَ خَمْسٌ [زَائِدَةٌ] فِيْ
أَكْمَلِهِ، وَسِتَّ عَشْرَةَ فِيْ أَقَلِّهِ التَّحِيَّاتُ : عَلَى التَّاءِ
وَاليَاءِ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ : عَلَى الصَّادِ الطَّيِّبَاتُ : عَلَى
الطَّاءِ وَالْيَاءِ للهِ : عَلَى لاَمِ الْجَلاَلَةِ السَّلاَمُ : عَلَى
السِّيْنِ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ : عَلَى الْيَاءِ، وَالنُّوْنِ، وَاليَاءِ
وَرَحْمَةُ اللهِ : عَلَى لاَمِ الْجَلاَلَةِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ : عَلَى
السِّيْنِ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ : عَلَى لاَمِ الْجَلاَلةِ الصَّالِحِيْنَ
: عَلَى الصَّادِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ : عَلَى لاَمِ أَلفٍ إلاَّ اللهُ :
عَلَى لاَمِ أَلِفٍ وَلاَمِ الْجَلاَلَةِ وَأَشْهَدُ أَنْ : عَلَى النُّوْنِ مُحَمَّدَاً
رَسُوْلُ اللهِ : عَلَى مِيْمِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الرَّاءِ، وَعَلَى لاَمِ
الْجَلاَلَةِ
Fasal: Tasydid
tasyahhud ada 21: yang 5 penyempurna dan 16 sisanya yang minimal, yaitu: [1&2] (التَّحِيَّاتُ) pada TA dan
YA, [3] (الْمُبَارَكَاتُ
الصَّلَوَاتُ) pada SHOOD,
[4&5] (الطَّيِّبَاتُ) pada THOO dan YA, [6] (للهِ) pada LAM
jalalah, [7] (السَّلاَمُ) pada SIN, [8-9-10] (عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ) pada YA, NUN, dan YA, [11] (وَرَحْمَةُ اللهِ) pada LAM Jalaalah, [12] (وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ) pada SIN, [13] (عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ) pada LAM Jalaalah, [14] (الصَّالِحِيْنَ) pada SHOD,
[15] (أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ) pada LAM ALIF, [16-17] (إلاَّ اللهُ) pada LAM ALIF
dan LAM Jalaalah, [18] (وَأَشْهَدُ
أَنْ) pada NUN, dan
[19,20,21] (مُحَمَّدَاً
رَسُوْلُ اللهِ) pada MIM, RO,
dan LAM Jalaalah.
[Tasydid
Shalawat]
تَشْدِيْدَاتُ أَقَلِّ الصَّلاةِ عَلَى النَّبِيِّ أَرْبَعٌ اللًّهُمَّ :
عَلَى اللاَّمِ وَالمِيْمِ صَلِّ : عَلَى اللاَّمِ عَلَى مُحَمَّدٍ : عَلَى
الْمِيْمِ
Fasal: Tasydid
minimal dalam shalawat kepada Nabi ada 4, yaitu: [1] ALLAHUMMA pada LAM dan
MIM, [2] SHOLLI pada LAM, [3] MUHAMMAD pada MIM, dan [4]
[Salam
Minimal]
اَقَلُّ السَّلَامِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ تَشْدِيْدُالسَّلَامِ عَلَى
السِّينِ
Fasal: Salam
minimal adalah Assalamu alaikum dengan tasydid pada SIN.
[Pembagian
Waktu Shalat]
أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ: زَوَالُ الشَّمْسِ
وَآخِرُهُ: مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ وَأَوَّلُ
وَقْتِ الْعَصْرِ: إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً.
وَآخِرُهُ: عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ وَأَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ: غُرُوْبُ
الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ وَأَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ:
غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ وَأَوَّلُ
وَقْتِ الصُّبْحِ: طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ: طُلُوْعُ الشَّمْسِ
Fasal: Waktu-waktu
shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan
akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan
bendanya, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama
panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah
terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan
akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah
hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5]
awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah
terbitnya matahari.
[Pembagian
Mega]
الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ أَحْمَرُ وَأَصْفَرُ وَأَبْيَضُ الأَحْمَرُ: مَغْرِبٌ.
والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ: عِشَاءٌ وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ
إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ
Mega ada 3, yaitu
mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan
putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat
Isya hingga hilangnya mega merah dan putih.
[Waktu
Larangan Shalat]
تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ
فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ
رُمْحٍ وَعِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غِيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ وَعِنْدَ
الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ وَبَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ وَبَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ
Fasal: Shalat yang
diharamkan yang tidak memiliki sebab
yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat
matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa
(matahari di tengah-tengah) selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat
kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga
matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.
[Saktah
Shalat]
سَكْتَاتُ الصَّلاَةِ سِتٌ بَيْنَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ وَدُعَاءِ
الافْتِتَاح وَبَيْنَ دُعَاءِ الافْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَبَيْنَ الْفَاتِحَةِ
وَالتَّعَوُّذِ وَبَيْنَ آخِرِ الْفَاتِحَةِ وَآمِيْنَ وَبَيْنَ آمِيْنَ
وَالسُّوْرَةِ وَبَيْنَ السُّوْرَةِ وَالرُّكُوْعِ
Fasal: Saktah
(berhenti sejenak) dalam shalat ada 6, yaitu [1] antara takbiratul ihrom dan
doa iftitah, [2] antara iftitah dan ta’awwud, [3] antara Al-Fatihah dan
ta’awwudz, [4] antara akhir Al-Fatihah dan aamiin, [5] antara amin dan surat,
[6] antara surat dan rukuk.
[Rukun
Thuma’ninah]
الأَرْكَانُ الَّتِيْ تَلْزَمُ فِيْهَا الطُّمَأْنِيْنَةُ أَرْبَعَةٌ الرُّكُوْعُ
وَالاِعْتِدَالُ وَالسُّجُوْدُ وَالْجُلُوْسُ السَّجْدَتَيْنِ
Fasal: Rukun yang
melazimkan thuma’ninah (tenang sejenak) ada 4, yaitu ruku, itidal, sujud, duduk
antara dua sujud.
الطُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ: سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ
عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ سُبْحَانَ اللهِ
Thuma’ninah adalah
berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya,
lamanya sekita ucapan Subhanallah.
[Sebab
Sujud Sahwi]
أَسْبَابُ سُجُوْدِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ الأوَّلُ: تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ
أَبْعَاضِ الصَّلاةِ، أَوْ بَعْضِ الْبَعْضِ الثَّانِيْ: فِعْلُ مَا يُبْطِلُ
عَمْدُهُ وَلاَ يُبْطلُ سَهْوُهُ، إِذَا فَعَلَهُ نَاسِياً الثَّالِثُ: نَقْلُ
رُكْنٍ قَوْلِيٍّ غَيْرِ مَحَلِّهِ الرَّابعُ: إِيْقَاعُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ مَعَ
احْتِمَالِ الزِّيَادِةِ
Fasal: Sebab sujud
sahwi ada 4, yaitu [1] meninggalkan bagian atau sebagian shalat, [2]
meninggalkan sesuatu yang membatalkan shalat jika dikerjakan sengaja tetapi
tidak membatalkan jika dikerjakan karena lupa, [3] memindah rukun ucapan ke
tempat lain, dan [4] mengerjakan rukun fi’li saat dugaan menambah.
[Ab’ad
Shalat]
أَبْعَاضُ الصَّلاَةِ سَبْعَةٌ التَّشَهُّدُ الأَوَّلُ وَقُعُوْدُهُ وَالصَّلاَةِ
عَلَى النَّبِيِّ فِيْهِ وَالصَّلاَةُ عَلَى الآلِ فِيْ التَّشَهُدِ الأخِيْرِ وَالْقُنُوْتُ
وَقِيَامُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ
فِيْهِ
Fasal: Ab’ad
(termasuk bagian) shalat ada 7, yaitu [1] tasyahhud, [2] duduk tasyahhud, [3]
shalawat kepada Nabi saat tasyahhud, [4] shalawat kepada keluarga Nabi saat
tasyahhud akhir, [5] qunut, [6] berdiri saat qunut, dan [7] shalawat kepada
Nabi dan keluarga dalam qunut.
[Pembatal
Shalat]
تَبْطُلُ الصَّلاَةُ بِأَرْبَعَ عَشْرَةَ خَصْلَةً بِالْحَدَثِ وَبِوُقُوْعِ
النَّجَاسَةِ إِنْ لَمْ تُلْقَ حَالاً مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ وَانْكِشَافِ
الْعَوْرَةِ إِنْ لَمْ تُسْتَرْ حَالاً وَالنُّطْقِ بِحَرْفَيْنِ أَوْ حَرْفٍ
مُفْهِمٍ عَمْداً وَبِالْمُفَطِّرِ عَمْداً وَبِالأَكْلِ الْكَثِيْرِ نَاسِياً وَثَلاَثِ
حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ وَلَوْ سَهْواً وَالْوَثْبَةِ الْفَاحِشَةِ وَالضَّرْبَةِ
الْمُفْرِطَةِ وَزِيَادَةِ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ عَمْداً وَالتَّقَدُّمِ عَلَى
إِمَامِهِ بِرُكْنَيْنِ وَالتَّخَلُّفِ بِهِمَا بِغَيْرِ عُذْرٍ وَنِيَّةِ قَطْعِ
الصَّلاَةِ وَتَعْلِيْقِ قَطْعِهَا بِشيءٍ وَالتَّرَدُّدِ فِيْ قَطْعِهَا
Fasal: shalat
batal karena 14 perkara, yaitu [1] hadats, [2] kejatuhan najis kecuali langsung
dibuang tanpa dibiarkan, [3] tersingkap aurot kecuali langsung ditutup, [4]
berbicara dua atau satu huruf yang bisa dipahami dengan sengaja, [5] melakukan
pembatal puasa dengan sengaja, [6] makan banyak meski lupa, [7] gerakan tiga
kali yang berturut-turut meskipun lupa, [8] melompat yang keras, [9] memukul
keras, [10] menambah rukun fi’li dengan sengaja, [11] mendahului iman dalam dua
rukun dan ketinggalan imam dua rukun tanpa uzur, [12] niat memutus shalat, [13]
sengaja memutus shalat dengan sesuatu, dan [14] ragu-ragu dalam membatalkan
shalat.
[Niat
Imamah]
الَّذِيْ يَلْزَمُ فِيْهِ نِيَّةُ الإمَامَةِ أَرْبَعٌ الْجُمُعَةُ وَالْمُعَادَةُ
وَالْمَنْذُوْرَةُ جَمَاعَةً وَالْمُتَقَدِّمَةُ فِيْ الْمَطَرِ
Fasal: Shalat yang
mengharuskan meniatkan imamah ada 4, yaitu [1] shalat Jumat, [2] mu’adah
(mengulang shalat berjamaah), [3] nazar shalat berjamaah, dan [4] jamak takdim
saat hujan.
[Syarat
Menjadi Makmum]
شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ أَنْ لاَ يَعْلَمَ بُطْلاَنَ صلاَةِ
إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ وَأَنْ لاَ يَعْتَقِدَ وُجُوبَ قَضَائِهَا
عَلَيْهِ وَأَنْ لاَ يَكُوْنَ مَأْمُوْمَاً وَلاَ أُمِّيّاً وَأَنْ لاَ
يَتَقَدَّمَ عَلَى إَمَامِهِ فِيْ الْمَوْقِفِ وَأَنْ يَعْلَمَ انْتِقَالاَتِ
إِمَامِهِ وَأَنْ يَجْتَمِعَا فِيْ مَسْجِدٍ، أَوْ ثَلاَثِ مِئَةِ ذِرَاعٍ
تَقْرِيبَاً وَأَنْ يَنْوِيَ الْقُدْوَةَ أَوِ الْجَمَاعَةَ وَأَنْ يَتَوَافَقَ
نَظْمُ صَلاَتَيْهِمَا وَأَنْ لاَ يُخَالِفَهُ فيْ سُنَّةٍ فَاحِشَةِ الْمُخَالَفَةِ
وَأَنْ يُتَابِعَهُ
Fasal: Syarat
mengikuti imam (menjadi makmum) ada 11, yaitu [1] mengetahui shalatnya imam
tidak batal baik karena hadats atau lainnya, [2] meyakini shalatnya tidak perlu
diulang (dianggap tidak sah), [3] imam tidak menjadi makmum, [4] imam tidak ummi (tidak bisa baca-tulis), [5]
makmum tidak mendahului imam dalam tempat, [6] mengetahui perpindahan gerakan
imam, [7] imam dan makmum berkumpul dalam satu masjid atau kira-kira 300 hasta,
[8] meniatkan menjadi makmum atau berjamaah, [9] shalat keduanya bersesuaian
(berurutan), [10] tidak menyelisihi imam dalam sunnah, dan [11] mengikuti imam.
[Pembagian
Makmum]
صُوَرُ الْقُدْوَةِ تِسْعٌ تَصِحُّ فِيْ خَمْسٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ وَقُدْوَةُ
امْرَأَةٍ بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ
امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ وَتَبْطُلُ فِيْ أَرْبَعٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ
رَجُلٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى
Fasal: Gambaran
makmum ada 9 kasus, tetapi hanya 5 yang sah, yaitu [1] lelaki bermakmum kepada
lelaki, [2] perempuan bermakmum kepada lelaki, [3] waria bermakmum kepada
lelaki, [4] perempuan bermakmum kepada waria, dan [5] peremuan bermakmum kepada
perempuan. Empat kasus lainnya batal shalatnya, yaitu [1] lelaki bermakmum
kepada perempuan, [2] lelaki bermakmum kepada waria, [3] waria bermakmum kepada
wanita, dan [4] waria bermakmum kepada waria.
[Syarat
Jama Takdim]
شُرُوْطُ جَمْعِ التَّقْدِيْمِ أَرْبَعَةٌ الْبَدَاءَةُ بِالأُوْلَى وَنِيَّةُ
الْجَمْعِ فِيْهَا وَالْمُوَالاَةُ بَيْنَهُمَا وَدَوَامُ الْعُذْرِ
Fasal: Syarat
jamak takdim ada 4, yaitu [1] dimulai dari shalat pertama, [2] niat jamak, [3]
muwalah (tanpa diselingi/ditunda) di antara keduanya, dan [4] adanya uzur.
[Syarat
Jama Takhir]
شُرُوْطُ جَمْعِ التَّأْخِيْرِ اثْنَانِ نِيَّةُ التَّأْخِيْرِ وَقَدْ بَقِيَ
مِنْ وَقْتِ الأُوْلَى مَا يَسَعُهَا وَدَوَامُ الْعُذْرِ إِلَى تَمَامِ
الثَّانِيَةِ
Fasal: syarat
jamak takhir ada2, yaitu [1] niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang
kira-kira cukup mengerjakannya dan [2] adanya uzur hingga sempurnya waktu
kedua.
[Syarat
Qoshor]
شُرُوْطُ الْقَصْرِ سَبْعَةٌ أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَرْحَلَتَيَنِ وَأَنْ
يَكُوْنَ مُبَاحاً وَالْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ وَنِيَّةُ الْقَصْرِ عِنْدَ
الإِحْرَامِ وَأَنْ تَكُوْنَ الصَّلاَةُ رُبَاعِيَّةً وَدَوَامُ السَّفَرِ إِلَى
تَمَامِهَا وَلاَ أَنْ يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ فِيْ جُزْءٍ مِنْ صَلاَتِهِ
Fasal: Syarat
Qoshor (meringkas shalat) ada 7, yaitu [1] jarak safar (minimal) 2 marhalah,
[2] safarnya mubah, [3] mengetahui qoshornya diperbolehkan, [4] niat qoshor
saat takbiratul ihrom, [5] shalatnya jenis shalat 4 rakaat, [6] dalam keadaan
safar hingga sempurna, dan [7] tidak menjadi makmum bagi imam sempurna meski
sebagian rakaat saja.
[Syarat
Shalat Jumat]
شُرُوْطُ الْجُمُعَةِ سِتَّةٌ أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِيْ وَقْتِ الظُّهْرِ وَأَنْ
تُقَامَ فِيْ خُطَّةِ الْبَلَدِ وَأَنْ تُصَلَّى جَمَاعَةً وَأَنْ يَكُوْنُوْا
أَرْبَعِيْنَ أَحْرَاراً، ذُكُوْراً، بَالِغِيْن، مُسْتَوْطِنِيْنَ وَأَنْ لاَ
تَسْبِقَهَا وَلاَ تُقَارِنَهَا جُمُعَةٌ فِيْ ذلكَ الْبلَدِ وَأَنْ
يَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ
Fasal: Syarat
shalat Jumat ada 6, yaitu [1] dikerjakan di waktu Zhuhur, [2] didirikan di
perbatasan daerahnya, [3] dikerjakan dengan berjamaah, [4] berjumlah (minimal)
40 orang merdeka laki-laki baligh yang bermukim, [5] tidak didahului atau
berbarengan jumatan lainnya di daerah tersebut, dan [6] didahului dua khutbah.
[Rukun
Khutbatain]
أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ حَمْدُ للهِ فِيْهِمَا وَالصَّلاَةُ عَلَى
النَّبِيِّ فِيْهِمَا وَالْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى فِيْهِمَا وَقِرَاءَةُ آيَةٍ
مِنَ الْقُرْآنِ فِيْ إِحْدَاهُمَا وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فِيْ الأَخِيْرَةِ
Fasal: Rukun
khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah di keduanya, [2]
bersholawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di keduanya, [3] berwasiat
taqwa di keduanya, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5]
mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir.
[Syarat
Khutbatain]
شُرُوْطُ الْخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ الطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ
الأَصْغَرِ وَالأَكْبَرِ وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسِةِ فِي الثَّوْبِ،
وَالْبَدَن، وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَالْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ وَالْجُلُوْسُ
بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِيْنَةِ الصَّلاَةِ وَالْمُوَالاَةُ بَيْنَهُمَا وَالْمُوَالاَةُ
بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلاَةِ وَأَنْ تَكُوْنَا بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ
يُسْمِعَهَا أَرْبَعِيْنَ وَأَنْ تَكُوْنَ كُلُهَا فِيْ وَقْتِ الْظُهْرِ
Fasal: syarat
khutbatain ada 10, yaitu [1] suci dari dua hadats: kecil dan besar, [2] suci
dari najis pada baju, badan, dan tempat, [3] menutup aurot, [4] berdiri bagi
yang mampu, [5] duduk di antara dua khutbah seperti thuma’ninah shalat, [6]
muwalah (tanpa diselingi apapun) keduanya, [7] muwalah keduanya dengan shalat,
[8] khutbah berbahasa Arab, [9] didengarkan oleh 40 orang, dan [10] semua itu
dilaksanakan di waktu Zhuhur.
[KITAB
JENAZAH]
[Mengurus
Jenazah]
الذِيْ يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ غُسْلُهَ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ
عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ
Fasal: Empat hal
yang harus dilakukan kepada mayat (orang mati), yaitu [1] memandikannya, [2]
mengkafaninya, [3] menyolatinya, dan [4] menguburnya.
أَقَلُّ الغُسْلِ: تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالمَاءِ وأَكْمَلُهُ: أَنْ يَغْسِلَ
سَوْأَتَيْهِ، وأَنْ يُزِيْلَ الْقَذَرَ مِنْ أَنْفِهِ، وأَنْ يُوَضِّئَهُ، وأَنْ
يَدْلُكَ بِالسِّدْرِ، وأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلاَثاً
Fasal: cara
memandikan minimal adalah meratakan air ke seluruh tubuhnya, dan yang sempurna
adalah mencuci dua aurotnya, menghilangkan kotoran dari hidungnya,
mewudhukannya, dimandikan dengan daun bidara, dan disiram 3 kali dengan air.
[Kafan]
أَقَلُّ الْكَفَنِ: ثَوْبٌ يَعُمُّهُ وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ: ثَلاَثُ
لَفَائِفَ. وَلِلْمَرْأَةِ: قَمِيْصٌ، وَخِمَارٌ، وَإِزَارٌ، وَلِفَافَتَانِ
Fasal: kafan
minimalis adalah pakaian yang menutupi semua badannya, yang sempurna bagi
jenazah lelaki adalah 3 lapis kain dan untuk wanita adalah gamis, khimar
(penutup kepala), izar (sarung), dan dua lapis kain.
[Rukun
Shalat Jenazah]
أَرْكَانُ صَلاَةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ الأَوَّلُ: النِّيَّةُ الثَّانِيْ:
أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ الثَّالِثُ: القِيَامُ عَلَى القَادِرِ الرَّبعُ: قِرَاءَةُ
الْفَاتِحَةِ الْخَامِسُ: الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ بَعْدَ الثَّانِيَةِ السَّادِسُ:
الدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ السَّابعُ: السَّلاَمُ
Fasal: Rukun
shalat janazah ada 7, yaitu [1] niat, [2] empat takbir, [3] berdiri bagi yang
mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayit setelah takbir
ketiga, dan [7] salam.
[Liang
Kubur]
أَقَلُّ الْقَبْرِ: حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَحَرْسُهُ مِنَ السِّبَاعِ
وَأَكْمَلُهُ: قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ، وَيُوْضَعُ خَدُّهُ عَلَى التُّرَابِ، وَيَجِبُ
تَوْجِيْهُهُ إِلَى الْقِبلَةِ
Fasal: Mengubur
minimal adalah lubang yang menutup aromanya dan melindunginya dari binatang
buas. Yang paling sempurna adalah qomah (lubang seukuran manusia) dan basthoh
(sedikit terhampar/luas), pipinya diletakkan di atas debu/tanah, dan wajib
dihadapkan ke arah qiblat.
[Pembongkaran
Mayat]
يُنْبَشُ الْمَيِّتُ لأَرْبَعِ خِصَالٍ لِلْغُسْلِ إذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لِتَوْجِيْهِهِ
إِلَى الْقِبْلَةِ لِلْمَالِ إذَا دُفِنَ مَعَهُ لِلْمَرْأةِ إذَا دُفِنَ
جَنِيْنُهَا مَعَهَا، وَأمْكَنَتْ حَيَاتُهُ
Fasal: Mayat
dibongkar jika memiliki 4 sebab, yaitu [1] untuk dimandikan apabila mayat belum
berubah, [2] untuk dihadapkan ke arah qiblat, [3] untuk mengambil harta jika
terkubur bersamanya, dan [4] untuk wanita jika janinnya terkubur bersamanya
selagi ada kemungkinan janin masih hidup.
[Istianah
Berwudhu]
الاسْتِعَانَاتُ أرْبَعُ خِصَالٍ مُبَاحَةٌ وَخِلاَفُ الأَولَى ومَكْرُوْهَةٌ وَوَاجِبَةٌ
فَالْمُبَاحَةُ: هِيَ تَقْرِيْبُ الْمَاءِ وَخِلاَفُ الأوْلَى: هِيَ صَبُّ
الْمَاءِ عَلَى نَحْوِ الْمُتَوَضِّىءِ وَالْمَكْرُوْهَةُ: هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ
أعْضَاءَهُ. وَالْوَاجِبَةُ: هِيَ لِلْمَرِيْضِ عِنْدَ الْعَجْزِ
Fasal: Meminta
tolong (dalam bersuci) ada 4 keadaan, yaitu mubah, khilaful aula (menyelisihi
yang lebih utama), makruh, dan wajib. Yang mudah adalah mendekatkan air, yang
khilaful aula adalah menuangkan air ke arah anggota wudhu, yang makruh adalah
bagi orang meminta dimandikan orang lain, dan yang wajib adalah bagi orang
sakit yang lemah.
[KITAB
ZAKAT]
[Harta
yang Dizakati]
الأمْوَالُ الَّتِيْ تَلْزَمُ فِيْهَا الزَّكَاةُ سِتَّةُ أنْوَاعٍ النَّعَمُ وَالنَّقْدَانِ
وَالْمُعَشَّرَاتُ وَأمْوَالُ التِّجَارَةِ؛ وَاجِبُهَا: رُبُعُ عُشْرِ قِيْمَةِ
عُرُوْضِ التِّجَارَةِ وَالرِّكَازُ وَالْمَعْدِنُ
Fasal: Harta yang
wajib dizakati ada 6 jenis, yaitu [1] binatang ternak, [2] naqdain (emas dan
perak), [3] muasyarot (buah-buahan dan makanan pokok), [4] harta perniagaan
yang kadar wajibnya (zakat perniagaan) adalah empat per sepuluh (4/10) dari
jumlah harta peniagaan, [5] barang simpanan, dan [6] barang logam.
[KITAB
PUASA]
[Kapan
Wajib Puasa?]
يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ أحَدُهَا: بِكَمَالِ
شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً وَثَانِيْهَا: بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ
مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ
لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ
بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ
بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ
رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ
Fasal: Puasa
Romadhon wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya
bilangan bulan Sya’ban 30 hari, [2] rukyatul hilal (melihat hilal) dengan
kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan
kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil (jujur), [4]
khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau
tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan
masuknya Romadhon dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut (di
atas).
[Syarat
Sah Puasa]
شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ إٍسْلاَمٌ وَعَقْلٌ وَنَقَاءٌ عَنْ
نَحْوِ حَيْضٍ وَعِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ
Fasal: Syarat sah
puasa ada 4, yaitu: [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan
[4] mengerti waktu puasa.
[Syarat
Wajib Puasa]
شَرُوْطُ وُجُوْبِهِ خَمْسَةٌ إسْلاَمٌ وَتَكْلِيْفٌ وَإطَاقَةٌ وَصِحَّةٌ وَإقَامَةٌ
Fasal: syarat
wajib puasa ada 5, yaitu: [1] Islam, [2] taklif (baligh dan berakal), [3]
mampu, [4] sehat, dan [5] mukim.
[Rukun
Puasa]
أرْكَانُهُ ثَلاَثَةٌ نِيَّةٌ لَيْلاً لِكُّلِ يَوْمٍ فِيْ الْفَرْضِ وَتَرْكُ
مُفَطِّرٍ ذَاكِراً مُخْتَاراً غَيْرَ جَاهِلٍ مَعْذُوْرٍ وَصَائِمٌ
Fasal: Rukun puasa
ada 3, yaitu [1] niat di malam hari setiap hari untuk puasa Romadhon, [2]
meninggalkan pembatal-pembatal saat ingat dan keinginan sendiri tanpa jahil dan
uzur, dan [3] orang yang berpuasa.
[Qodho
dan Kaffarot]
وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ لِلْصَّوْمِ الْكَفَّارَةُ الْعُظْمَى
وَالْتَعْزِيْزُ عَلَى مَنْ أفْسَدَ صَوْمَهُ فِيْ رَمَضَانَ يَوْماً كَامِلاً
بِجِمَاعٍ تَامٍّ آثِمٍ بِهِ لِلْصَّوْمِ
وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ: الإمْسَاكُ لِلصَّوْمِ فِيْ سِتَّةِ مَوَاضِعَ الأوَّلُ:
فِيْ رَمَضَانَ، لاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى مُتَعَدٍّ بِفِطْرِهِ وَالثَّانِي: عَلَى
تَارِكِ النِّيَّةِ لَيْلاً فِيْ الْفَرْضِ وَالثَّالِثُ: عَلَى مَنْ تَسَحَّرَ
ظَانّاً بَقَاءَ اللَّيْلِ، فَبَانَ خِلاَفُهُ وَالرَّابعُ: عَلَى مَنْ أَفْطَرَ
ظَانّاً الْغُرُوْبَ، فَبَانَ خِلاَفُهُ أيْضَاً والْخَامِسُ: عَلَى مَنْ بَانَ
لَهُ يَوْمُ ثَلاَثِيْنَ شَعْبَانَ أنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ؟ وَالسَّادِسُ: عَلَى
مَنْ سَبَقَهُ مَاءُ الْمُبَالَغَةِ مِنْ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ
Fasal: Wajib
disertai mengqodho puasa, membayar kaffarot besar dan tazir (peringatan) atas
orang yang merusak puasanya di bulan Romadhon sehari penuh dengan jima, juga
dia berdosa karena hal tersebut.
Wajib menahan diri
(dari makan, minum, & jima) disertai mengqodhonya dalam 6 tempat, yaitu [1]
di Romadhon tidak di selainnya bagi orang yang sengaja membatalkannya, [2]
orang yang tidak niat di malam hari untuk Romadhon, [3] atas orang yang sahur
dengan dugaan masih malam padahal bukan, [4] atas orang yang berbuka dengan
dugaan Maghrib padahal belum, [5] atas orang yang jelas baginya hari ke-30
bulan Sya’ban, ternyata masih Ramadhon, dan [6] atas orang yang terlanjur minum
air bekas madhmadhoh (memasukkan air ke hidung saat berwudhu) dan instinsyaq
(mengeluarkan air dari hidung).
[Pembatal
Puasa]
يَبْطُلُ الصَّوْمُ بِرِدَّةٍ وَحَيْضٍ وَنِفَاسٍ وَوِلاَدَةٍ وَجُنُوْنٍ
وَلَوْ لَحْظَةً وَبِإِغْمَاءٍ وَسُكْرٍ تَعَدَّى بِهِمَا إنْ عَمَّا جَمِيْعَ
النَّهَارِ
Fasal: Puasa batal
karena: [1] murtad, [2] haidh, [3] nifas, [4] melahirkan, [5] gila meski
sebentar, [6-7] pingsan dan mabuk jika terjadi di siang hari.
[Pembagian
Ifthor]
الإفْطَارُ فِيْ رَمَضَانَ أَرْبَعَةُ أنْوَاعٍ وَاجِبٌ كَمَا فِيْ الْحَائِضِ
وَالنُّفَسَاءِ وَجَائِزٌ كَمَا فِيْ الْمُسَافِرِ وَالْمَرِيْضِ وَلاَ وَلاَكَمَا
فِيْ الْمَجْنُوْنِ وَمُحَرَّمٌ؛ كَمَنْ أخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ
تَمَكُّنِهِ حَتَّى ضَاقَ الْوَقْتُ عَنْهُ
Fasal: Berbuka
(membatalkan puasa) di Romadhon ada 4 jenis, yaitu [1] wajib seperti wanita
haidh dan nifas, [2] boleh seperti orang musafir dan orang sakit, [3] harus
seperti orang gila, dan [4] haram seperti orang yang mengakhirkan qodho
Romadhon hingga mepet waktunya padahal mampu malakukannya (di waktu longgar).
[Jenis
Ifthor]
وَأقْسَامُ الإفْطَارِ أرْبَعَةٌ أيْضاً أوَّلُهَا: مَا يَلْزَمُ فِيْهِ
الْقَضَاءُ وَالْفِدْيَةُ، وَهُوَ اثْنَانِ –الأوَّلُ الإفْطَارُ لِخَوْفٍ عَلَى
غَيْرِهِ –وَالثَّانِيْ الإفْطَارُ مَعَ تَأْخِيْرِ قَضَاءٍ مَعَ إمْكَانِهِ
حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ آخَرُ وَثَانِيْهَا: مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْقَضَاءُ
دُوْنَ الْفِدْيَةِ، وَهُوَ يَكْثُرُ؛ كَمُغْمَى عَلَيْهِ وَثَالِثُهَا: مَا
يَلْزَمُ فِيْهِ الْفِدْيَةُ دُوْنَ الْقَضَاءِ، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيْرٌ وَرَابِعُهَا:
لاَ وَلاَ، وَهُوَ الْمَجْنُوْنُ الَّذِيْ لَمْ يَتَعَدَّ بِجُنُوْنِهِ
Pembagian ifthor
ada 4, yaitu [1] berbuka yang mengharuskan qodho dan fidyah, ada 2: pertama
berbuka karena takut orang lain dan kedua berbuka dengan mengakhirkan qodho
hingga datang Romadhon berikutnya padahal mampu, [2] berbuka yang mengharuskan
qodho tetapi tidak fidyah dan ini banyak terjadi seperti orang pingsan, [3]
berbuka yang mengharuskan fidyah tanpa qodho yakni orang tua renta, dan [4]
tidak qodho dan fidyah yaitu orang gila yang tidak sengaja gila.
[Bukan
Pembatal Puasa]
الَّذَيْ لاَ يُفَطِّرُ مِمَّا يَصِلُ إلَى الْجَوْفِ سَبْعَةُ أفْرَادٍ مَا
يَصِلُ إلَى الْجَوْفِ بِنِسْيَانٍ أوْجَهْلٍ أوْ إكْرَهٍ وَبِجَرَيَانِ رِيْقٍ
بِمَا بَيْنَ أسْنَانِهِ وَقَدْ عَجَزَ عَنْ مَجِّهِ لِعُذْرِهِ وَمَا وَصَلَ
إِلَى الْجَوْفِ وَكَانَ غُبَارَ طَرِيْقٍ وَمَا وَصَلَ إِلَيْهِ وَكَانَ
غَرْبَلَةً دَقِيْقٍ أوْ ذُبَاباً طَائِراً أوْ نَحْوَهُ
Fasal: Perkara
yang masuk ke rongga mulut tetapi tidak perlu membatalkan puasa ada 7, yaitu
[1] apa yang masuk ke rongga mulut karena lupa, [2] kebodohan, [3] dipaksa, [4]
ludah yang mengalir di antara sela gigi-gigi tanpa kesanggupan mencengahnya
sebagai uzur, [5] apa yang masuk ke rongga mulut berupa debu jalan, [6] apa
yang masuk ke dalamnya berupa ayakan tepung atau [7] lalat/burung atau
semisalnya (yang masuk ke mulut).
وَالله أعْلَمُ بِالصَّوَابِ
نَسْأْلُ الله الْكَرِيْمَ بِجَاهِ نَبِيِّهِ الْوسِيْمِ أنْ يُخْرِجَنِيْ
مِنَ الدُّنْيَا مُسْلِمَاً، وَوَالِدَيَّ وَأَحِبَّائِيْ وَمَنْ إِلَىَّ انْتَمَى
وَأنْ يَغْفِرَ لِيْ وَلَهُمْ مُقْحَمَاتٍ وَلَمَماً
وَصَلَّى الله عَلَى سِيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، رَسُوْلِ الله إلَى كَافَّةِ
الْخَلْقِ، رَسُوْلِ الْمَلاَحِمِ، حَبِيْبِ الله، الْفَاتِحِ الْخَاتِمِ، وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْنَ
وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Allahu a’lam bish
shoowab.
Kami meminta
kepada Allah yang Maha Mulia dengan kedudukan Nabi-Nya yang mulia [berdoa
dengan wasilah jah/kedudukan Nabi adalah dilarang menurut jumhur ulama-penj] agar mengeluarkanku dari dunia dalam keadaan
Muslim, kedua orang tuaku, kekasih-kekasihku, dan orang-orang yang berbuat baik kepadaku. Juga semoga Dia
mengampuniku dan mereka kesalahan-kesalahan.
Semoga shalawat
dan salam Allah atas Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin
Abdimanaf, utusan Allah kepada seluruh makhluk, Rasul akhir zaman, kekasih
Allah, sang Pembuka sang Penutup, beserta keluarga dan Sahabatnya semua. Segala
puji bagi Allah Rabb semesta alam.
[Sampai di sini
tambahan dari Syaikh Muhammad An-Nawawi Al-Jawi Rahimahullah]
Posting Komentar
0 Komentar